Senin, 21 April 2008

BAB I. PENDAHULUAN

A.Latar belakang

Perkembangan perkebunan di Indonesia diawali pada masa Penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan ini telah diterapkan prinsip-prinip industri dalam mengembangkan perkebunan di Indonesia.
Dan pada saat yang bersamaan perkembangan perkebunan mulai diarahkan pada keterpaduan sektor hulu dan hilir (on-farm dan off-farm) dengan pendekatan industri yang berbasis komoditas. Berdasarkan potensi sumber daya alam yang dimiliki, Kelapa sawit merupakan komoditas andalan perkebunan di Indonesia sehingga pemerintah mentargetkan areal dan produksi kelapa sawit (CPO dan PKO) Indonesia mampu melampui Malaysia.
Namun produktifitas perkebunan kelapa sawit di Indonesia masih lebih rendah dari produktifitas potensialnya. Produksi hilir minyak kelapa sawit di Indonesia cukup prospektif, karena nilai tambah (value added) terbesar diperoleh dari industri hilir ini. Adapun nilai tambah tersebut sangat tergantung pada dukungan teknologi dan pengembangan riset/penelitian di tingkat dasar.
Pesatnya pengembangan perkebunan kelapa sawit (ekstensifikasi areal) dan maraknya industri hilir minyak kelapa sawit (termasuk biodisel) memerlukan dukungan sumber daya manusia yang memiliki keahlian spesifik dan sesuai dengan karakteristik komoditas tersebut.
Jenis atau Varietas Kelapa Sawit
Jenis (varietas) dura memiliki tempurung (cangkang ) yang sangat tebal, daging buah tipis,inti buah (karnel)besar, dan kandungan minyak rendah, sehingga produktifitasnya rendah. Jenis dura dalam persilangan di jadikan tanaman betina.
Jenis pisifera memiliki cangkang yang tipis, daging buah tebal, inti buah kecil, dan kandungan minyak tinggi, tetapi buahnya sering gugur sehingga produktifitasnya rendah. Jenis pisifera dalam persilangan di jadikan tanaman pejantan.
Sedangkan jenis tanera merupakan hasil persilangan antara dura dan pisifera, sehingga kandungan minyaknya tinggi dan buahnya tidak gugur. Akibatnya, produktifitas tanaman perhektar tinggi

1.Diskripsi Perusahan

Profil Kebun Sungai Seruyan.
Perkebunan kelapa sawit yang dimiliki oleh PT. Sungai Seruyan yang terletak di Desa Asambaru, Kecamata Hanao, Kabupaten Kota Waringin Timur, Propinsi Kalimantan Tengah. luas areal tanam yang diusahakan sampai saat ini adalah 4.177,81 Ha yang dibagi dalam 6 Divisi

Total luas Kebun Seruyan 4.177,81 Ha yang terdiri atas 6 divisi yaitu :
1.Divisi 1 : 731.91 Ha
2.Divisi 2 : 749.23 Ha
3.Divisi 3 : 715.43 Ha
4.Divisi 4 : 591.53 Ha
5.Divisi 5 : 670,12 Ha
6.Divisi 6 : 719.59 Ha

Struktur organisasi kebun seruyan terdiri atas
1.Estate Meneger : 1 orang
2.Askep : 2 orang
3.Kasie : 1 orang
4.Asisten Divisi : 6 orang
5.Mandor 1 : 1 orang
6.Kerani Divisi : 6 orang
7.Mandor Panen : 17 orang
8.SKU Bulanan : 47 orang
9.SKU Harian : 372 orang
10.BHL : 322 orang
Perkebunan Seruyan terletak di Desa Asambaru, Kecamata Hanao, Kabupaten Kota Waringin Timur, Propinsi Kalimantan Tengah. Batas-batas Kebun Sungai Seruyan.
1.Utara : Kebun Tangar
2.Selatan : Desa 115 ( Piringan 115 )
3.Timur : Kebun Rungau
4.Barat : Desa Sebabi (Piringan Sebabi)


Pengenalan Umum Kebun

Pembagian Kebun

kebun seruyan kalteng 2 dibagi dalam beberapa Divisi yang mana terdiri dari divisi I – divisi VI. Divisi III adalah beberapa divisi yang terdapat pada kebun yang mana luasnya sebesar 715,34 ha/divisi tergantung kondisi areal dan tiap terdiri dari blok tanaman yang luasnya 16-40 ha/blok tergantung kondisi areal. Blok ini sangat penting sebagai satuan luas administrasi dan semua pekerjaan akan diperhitungkan dalam satuan blok. Untuk areal yang rata atau berombak mudah membagi blok tersebut, tetapi untuk kondisi bergelombang atau berbukit akan memiliki blok yang lebih kecil dan tidak jarang sebagai batas blok dipakai batas alam seperti sungai, jalan dan lain-lain.
Pada divisi III terdiri dari 4 komplek yang mana komplek merupakan suatu areal yang memiliki kondisi topografi lahan yang hampir sama, kondis tanah sama, tahun tanam sama dan juga varietas yang terdapat dalam suatu komplek dapat sama. Tujuan dari pengomplekan adalah untuk masalah dalam perawatan. yang mana masing-masing blok terdiri dari beberapa komplek yang meliputi :
3221 97 D08 meliputi blok T.30 – T.34 serta blok U.30 – U.34
3221 97 D09 meliputi blok T.35 – T.39 serta blok U.35 – U.39
3221 97 D10 meliputi blok S.35 – S.39
3221 98 D11 meliputi blok S.30 – S.34



Nama komplek misalnya . 3221 97 D08
3221 merupakan kode kebun
97 adalah tahun tanam.
D adalah datar. Merupakan gambaran kemiringan tanah mayoritas pada komplek tersebut. Dapat juga dituliskan B, yang artinya bergelombang.

Dalam 1 blok memiliki luasan normal seluas 30 ha, namun tidak selamanya memiliki luasan 30 ha. Hal ini disebabkan karena keadaan topografi suatu blok dan kondisi blok tersebut. Luasan 1 blok nya ditentukan berdasarkan btas jalan Main Road dan Coletion Road.
Batas – batas luasan divisi 3 :
Utara : Kebun Sulin
Selatan : Divisi 2
Timur : Divisi 4
Barat : Piringan Sebabi
2.Struktur Organisasi

Tabel 1.1 Struktur Organisasi

B.Maksud dan Tujuan
Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) diarahkan kepada tiga hal, yaitu mahasiswa sebagai penerus pembangunan, Perguruan Tinggi tempat mahasiswa belajar, dan perusahaan tempat PKL mahasiswa.

1.Mahasiswa
a.Memperdalam pengertian dan penghayatan mahasiswa tentang:
1)Cara berpikir dan bekerja interdisipliner dan lintas sektoral.
2)Kegunaan hasil pendidikannya bagi pembangunan nasional pada umumnya dan pengembangan perusahaan serta masyarakat disekitar perusahaan.
3)Permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan dalam pengembangannya.
b.Mendewasakan alam pikiran mahasiswa dalam setiap penelaahan dan pemecahan masalah yang ada dimasyarakat secara pragmatis ilmiah.
c.Memberikan ketrampilan kepada mahasiswa untuk melaksanakan program pengembangan suatu perusahaan.
d.Membina mahasiswa agar menjadi inovator, motivator, dan problem solver ( pemecah masalah ).
e.Mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan kepada mahasiswa tentang lapangan kerja yang akan dihadapi.
2.Perguruan Tinggi
a.Mendapatkan umpan balik sebagai usaha integrasi mahasiswa dengan perusahaan atau instansi, dengan demikian kurikulum perguruan tinggi dapat disesuaikan dengan tuntutan pembangunan perkebunan.
b.Tenaga pengajar memperoleh berbagai kasus digunakan sebagai contoh dalam proses pendidikan perkebunan.
c.Mempercepat dan meningkatkan kerjasama antara perguruan tinggi sebagai pusat ilmu dan teknologi dengan instansi/perusahaan lainnya dalam melaksanakan pembangunan perkebunan.


3.Masyarakat/Perusahaan
a.Memperoleh bantuan tenaga dan fikiran untuk merencanakan melaksanakan proyek pembangunan.
b.Cara berfikir bersikap dan bertindak akan lebih ditingkatkan dan lebih sesuai dengan program pembangunan.
c.Memperoleh pembaharuan-pembaharuan yang diperlukan.
d.Terbentuknya kader-kader pembangunan di masyarakat, sehingga terjamin terbentuknya penerus-penerus pembangunan.
e.Perusahaan mendapatkan informasi mutakhir tentang kecenderungan perkembangan usaha, terjadinya proses pembaharuan, minimal pada tataran konsep/pemikiran yang menuju ke institusi/perusahaan professional.

C.Waktu Pelaksanaan dan Jadwal Kegiatan
Praktek kerja lapangan (PKL) di laksanakan dari tanggal 12 Febuari sampai dengan tanggal 16 maret 2008. Adapun lokasi pelaksanaanya bertempat di PT. Sungai Seruyan yang terletak di Desa Asambaru, Kecamata Hanao, Kabupaten Kota Waringin Timur, Propinsi Kalimantan Tengah. Adapun jadwal kegiatan dapat di lihat di buku harian (laporan harian) selama kegiatan PKL.













BAB II. PELAKSANAAN

I.LAND CLEARING

A.Pengertian Land Clearing
Land clearing ( LC) adalah : suatu kegiatan pembukaan lahan dan juga pengelolaan lahan hingga siap ditanami oleh tanaman kelapa sawit.
B.Tujuan Land Clearing ( LC ) :
Kegiatan yang dilakukan mulai dari perencanaan tata letak lahan sampai dengan pembukaan lahan secara fisik. Menyiapkan areal siap tanam untuk menunjang pertumbuhaan tanaman dan memudahkan dalam pengelolaan kebun agar bibit yang akan ditanam mendapat ruang dan tempat tumbuh yang baik bagi tanaman kelapa sawit sehingga tanaman dapat tumbh normal dan terhindar dari pesaingan antara tanaman dengan gulma serta gangguan yang lannya.
Tahapan – tahapan Pekerjaan yang harus dilakukan kegiatan Land Clearing ( LC ) antara lain sebagai berikut :
1.Block Design (Tidak Dapat)
2.Imas dan Tumbang (Tidak Dapat)
3.Pancang Rumpuk (Dapat)
4.Perun (Tidak Dapat)
5.Pembatan Jaringan Jalan dan saluran air (Tidak Dapat)
6.Pancang tanam (Dapat)

C.Pembahasan
1.Block Design (Tidak Dapat)
2.Imas dan Tumbang (Tidak Dapat)
3.Pancang Rumpuk
Pelaksanaan kegiatan :
Pemancangan sebaiknya dilakukan setelah pekerjaan perun, rumpuk, dan bakar selesai dilakukan pada seluruh areal. Jarak tanam yang dipakai tergantung pada kerapatan tanaman. Kerapatan tanaman adalah jumlah tanaman yang ditanam dalam luas tertentu dan sangat dipengaruhi oleh faktor bahan tanaman, lingkungan dan sistem tanam.
Lebar areal rumpukan rata-rata 4 meter dan jarak antara rumpukan yang satu dengan rumpukan yang lain adalah 32 m, yang mana setiap 4 baris tanaman maka terdapat satu pancang rumpuk, dengan demikian setiap 2 pancang rumpuk bisa ditanam 4 baris tanaman kelapa sawit dengan jarak terdekat antara tanaman dengan rumpukan adalah 2 m.
Pancang rumpuk dibuat untuk menentukan tempat perumpukan kayu dan seresah dari semak-semak yang telah dibesihkan. Pancng rumpukan ini mutlak karena dapat memudahkan pekerjaan perun dan efisiensi penggunaan lahan.
Untk topografi yang daerah miring rumpukan harus mengikuti countour.

4.Perun (Tidak Dapat)
5.Pembatan Jaringan Jalan dan saluran air (Tidak Dapat)
6.Pancang tanam
Diperlukan untuk menentukan jarak antara barisan tanaman dalam blok. Barisan yang teratur akan memudahkan sensus pohon, pengontrolan pemeliharaan dan lain-lain.

Alat :
Kayu
Meteran
Rambu ukur
Teodolit
Statip


Cara kerja :
Bahan yang harus disiapan adalah anak pancang dari kayu dengan ukuran kurang lebih 70Cm – 1M, dan diameter 1,5 – 2 Cm. Jumlah yang dibutuhkan sesuai dengan keperluan Ph/Ha ditambah 20%.
Mula – mula tetapkan pancang tanam terlebih dahulu, tidak lupa di atas pancang di paku lurus agar alat teodolit dapat melihat panjang yang akan di tuju berikutnya, maka dari pancang utama tarik meteran untuk menetapkan titik pancang selanjutnya dengan jarak 8 Meter.
Meluruskan pancang utama dengan pancang berikutnya dengan menggunakan alat teodolit
Pada daerah rendahan harus menggunakan rambu ukur untuk dpat meluruskan jarak pancang tanam yang satu denganyang lainnya.
Ukuran jarak tanam yang ditetapkan adalah dari MR : 9 M
CR : 8M
Gambar A Gambar B
Gambar D Gambar C
Gambar.2.1.1 Pengukuran Pancang tanam dan rumpuk dengan alat teodolit

Keterangan gambar 2.1.1 :
Gambar A : pengukuran dengan alat teodolit dari pancang awal
Gambar B : pengukuran jarak antar tanaman setiap 8 M.
Gambar C : pancang tanam
Gambar D : pancang rumpuk

II.PEMBIBITAN

A.Pengertian Pembibitan :
Pembibitan adalah tempat untuk menumbuhkan kecambah ( benih yang telah diberi perlakuan sehingga membentuk plumula (pucuk) dan radikula (akar) serta siap untuk ditanam dipembibitan )hingga menjadi bibit (bahan tanam yang sudah siap untuk ditanam dilapangan ) dan juga memeliharanya sampai bibit siap ditanam kelapangan/kebun. Dengan tujuan, melakukan seleksi, memelihar bibit secara intensif, mendapatkan jaminan hasil produksi yang tinggi di masa depan.
B.Tujuan dari pembibitan :
Untuk mlakukan penyeleksian hingga bibit yang benar-benar baiklah yang akan ditanam dilapangan
Untuk memelihara biit secara intensif sehingga pertumbuha subur dan seragam
Meminimalkan gangguan pada masa pertumbuha tanaman
Mendapatkan bibit – bibit yang berkualitas baik, mendapatkan jaminan akan hasil/produksi yang tinggi dimasa depan.

C.Pembahasan kegiatan pemeliharaan :
1.Di pembibitan ada 3 hal yang perlu diperhatiakan :
Bersih
Seragam
Hijau

2.Penyiraman biasanya : 2 x sehari
kebutuhan air di pre-nursery : 0,1 – 0,25 liter/polybag
kebutuhan air di main-nursery : 2 liter/polybag



3.Weeding/penyiangan ( pengendalian )
Weeding/penyiangan secara manual manual untk rumput ataupun gulma yang berada di dalam polibag, biasanya dilakukan dalam rotasi 1 x seminggu.

4.Konsolidasi bibit :
Tujuannya adalah untuk menambah tanah yang kurang kedalam polibag, serta enegakkan bibit yang tumbuh miring dan juga menutup tempurung dari bibit agar tidak terkena matahari langsung yang mana dapat menyebabkan bibit mati.

5.Pemupukan :
Pada Main-Nurseri pupuk diberikan tepat pada waktunya sesuai dengan dosis dan juga umur bibit. Pupuk yang ditabur melingkar diatas polibag dengan jarak 4-5 cm dari pangkal bibit ” yang perlu di perhatikan” pupuk jangan sampai mengenai daun dan juga akar tanaman . akar yang terbuka sebaiknya di tutup dengan tanah dan mulsa. Pupuk yang biasa diberikan adalah NPK 12
Pada Pembibitan di Pre-Nursery bahan pupuk yang digunakan adalah NPK dan Air. Standart yang dibutuhkan untuk setiap bibit adalah 150 cc/bibit atau 15 liter/ 100 bibit. Cara pembuatan bahan induk yaitu dengan mencampurkan bahan lalu bahan yang telah dicampur diendapkan selama satu malam maka bahan yang telah diendapkan itu akan memisah menjadi 2 yaitu endapan tedapat pada dasar yang paling bawah dan lapisan atas adalah air. Maka bahan yang akan digunakan untuk pemupukan adalah bukan bahan yang mengendap melainkan bahan yang berada pada lapisan atas yang bercampur dengan air. Perbandingan pupuk dengan air adalah 1 : 1.

6.Pengendalian hama dan penyakit :
Hama adalah pengganggu tanaman kelapa sawit yang disebabkan oleh serangga atau mamalia yang dapat menurunkan kualitas bibit dan secara ekonomis dapat merugikan manusia. Penyakit adalah faktor pengganggu tanaman kelapa sawit yang disebabkan oleh jamur, bakteri atau virus yang secara ekonomis dapat menurunkan kalitas bibit. Pengamatan harian tehadap hama dan penyakit, hama utama yang menyerang dalam pembibitan adalah : semut, jangkrik, belalang. Disamping itu terdapat jamur kulvularia dan helmintos porium yang disebabkan oleh tingkat kelembapan yang tinggi. Pembrantasan hama dan penyakit pre nurse tidak di benarkan memakai cara menyemprot dengan pestisida, apalagi pestisida yeng mempunyai ikatan unsur tembaga, air raksa atau timah. Hama dan penyakit yang menyerang pre nurse dan main nuresery hampir memiliki kesamaan
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara :
a.Dithane M-45, yaitu fungisida dengan bahan aktif mankozeb 80%, yang berbentuk serbuk halus menyerupai tepung dengan berat 1 kg per bungkus.
b.Matador, yaitu insektisida dengan bahan aktif lamdasihalotrin 25 g/l yang berwarna putuh bening yang mana bila dicampur dengan air berwarna putih susu.
c.Komplesol, yang berbahan aktif tonic green (27 + 18 + 9 + 1) merupakan pupuk daun majemuk yang mengandung unsur hara makro dan mikro. Memiliki berat 500 g/bungkus.
Hara mikro : 0,02% B, 0,002% Mo, 0,008% Cu, 0,02% Zn, 0,08% Fe, 0,04% Mn.
Hara makro : 27% N, 18% P2­O5, 9% K2O, 1% Mgo
d.Dilakukan dengan rotasi 2 x seminggu.

7.Seleksi bibit :
Tujuan dari seleksi bibit merupakan pekerjaan untuk menyingkirkan atau memusnahkan bibit yang abnormal dan mempertahankan bibit yang memiliki kwalitas baik dan sehat ketahap selanjutnya. Perbedaan pertumbuhan dapat disebabkan oleh fktor genetis maupun kultur teknis. Pada tanaman normal umur 3 bulan memiliki 3-5 helai daun serta perbedaan pertumbuhan dapat mengacu pada standart pertumbuahan.
Pada Pre-Nurseri seleksi semai dilakukan 2 tahap yaitu pada tahap pertam seleksi bibit dilakukan pada umur tanaman 2-3 bulan.dan tahap kedua dilakukan pada bibit berumur 4 bulan (sebelum bibit di pidahkan ke Main-Nursery)
Jadwal seleksi pada Main-Nursery (pembibitan utama) harus tepat dan umumnya dilakukan 3-4 kali. Semakin ketat seleksi yang dilakukan makanmutu dari bibit yang dihasilkan juga akan semakin baik. Jadwal seleksi dan umur tanaman sebagai berikut :
Seleksi I : umur tanaman 6 bulan
Seleksi II : umur tanaman 9 bulan
Seleksi III : umur tanaman 12 bulan
Seleksi IV : sebelum mutasi kelapangan.
Faktor penyebab bibit yang abnormal :
Kesalahan penanaman
Penyiraman yang kurang merata
Kesalahan dalam pemberian pupuk, herbisida, bahan kimia lain
Faktor genetis
Kekurangan air











III.RAWAT TANAMAN BELUM MENGHASILKAN

A.Pengertian.
Pemeliharaan tanaman adalah suatu usaha yang dapat unuk meningkatkan dan atau menjaga kesuburan tanah dalam lingkungan pertumbuhan tanaman, guna mendapatkan tanaman yang sehat dan memiliki produksi sesuai dengan yang di harapkan.

B.Tujuan kegiatan Rawat Tanaman Belum Menghasilkan.
Tujuan dari perawatan Tanaman Belum Menghasilkan adalah meningkatkan dan atau menjaga kesubuan tanah dalam lingkungan pertumbuhan tanaman, guna mendapatan tanaman yang sehat dan berproduksi sesuai yang diharapkan.

C.Pembahasan Kegiatan Rawat Tanaman Menghasilkan
Tanaman Belum Menghasilkan atau TBM adalah tanaman yang masih dalam tahap pemeliharaan dari tanaman belum menghasilkan menjadi tanaman menghasilkan. Adapun jenis perawatan pada TM yang harus diperhatikan antara lain :
Urutan kegiatan di TBM:
Rawat Jalan Tikus
Rawat Piringan
Pemberantasan Lalang
Rawat Gawangan( DAK )
Sensus pohon
Konsolidasi

1. Rawat Gawangan ( DAK )
Perawatan gawangan adalah pembersihan gulma kelompok anak kayu di gawangan yang di anggap merugikan tanaman. Gulma kelompok kayu-kayuan biasa tumbuh lebih cepat pada daerah rendahan atau sekitar tanah kosong untuk itu penanganan pada lokasi tersebut harus lebih intensif.


Standar gawangan :
1.Bebas dari gulma kelompok kayu-kayuan, pakis kawat (Dicranopteris), kerisan (Scleria sumantranensis), Putihan (Chromolena odorata), bunga tahi ayam (Lantana camara), Kucingan (Mimosa invisa)
2.Rawat gawangan harus dilakukan rutin,dengan rotasi 4 kali setahun
3.Gulma yang berada digawangan harus didongkel sampai keakarnya dan tidak boleh dibabat.
4.Gulma yang berada di gawangan mati atau yang beada dirumpukan harus dibabat mepet
5.Bila pada waktu mengerjakan rawat gawangan dijumpai lalang, maka lalang tersebut tidak boleh dibabat tetapi tetapi harus di biarkan agar bisa dikerjakan oleh petugas khusus lalang.
6.Alat yang digunakan adalah cados (cangkul dodos).




gambar.A Kegiatan dongkel anak kayu



Gambar.B Alat yang digunakan


Gambar. 2.3.1. Kegiatan Dongkel Anak Kayu
IV.PEMELIHARAAN TANAMAN MENGHASILKAN

A.Pengertian.
Pemeliharaan tanaman adalah suatu usaha yang dapat unuk meningkatkan dan atau menjaga kesuburan tanah dalam lingkungan pertumbuhan tanaman, guna mendapatkan tanaman yang sehat dan memiliki produksi sesuai dengan yang di harapkan.

B.Tujuan kegiatan Rawat Tanaman Menghasilkan.
Tujuan dari perawatan Tanaman Menghasilkan adalah menjamin produktifitas tanaman sesuai umur, memudahkan pemanenan, serta pengelolaan kebun.

C.Pembahasan Kegiatan Rawat Tanaman Menghasilkan
Tanaman menghasilkan atau TM adalah tanaman yang sudah siap untuk dipanen buahnya secara rutin. Adapun jenis perawatan pada TM yang harus diperhatikan antara lain :

1.Semprot Piringan dan Pasar pikul
Semprot piringan dan pasar pikul dilakukan 3 rotasi dalam setahun yang terdiri dari 2 rotasi untuk CDA dan 1 rotasi untuk CP.
Semprot piringan dan Pasar pikul CDA dilakukan dengan volume kerja 1 ( 100 % ) dengan norma HK 0,2 HK/Ha. Bahan yang digunakan glifosat ( Roll-Up ) dengan dosis 0,25 L/Ha dan Metil Metsulfuron ( Ally ) dengan dosis 0,013 Kg/Ha. Alat yang digunakan MHS ( Micron Herbi Sprayer ) dengan sistem pengkabutan yang digerakan oleh dinamo dengan sumber tegangan batray ( 6 Volt ).
Semprot piringan dan pasar pikul CP dilakukan dengan volume kerja 1 ( 100 % ) dengan norma HK 0,5 HK/Ha. Bahan yang digunakan Paraquat diklorida ( Supretox ) dengan dosis 0,25 L/Ha dan Metil Metsulfuron ( Ally ) dengan dosis 0,013 Kg/Ha. Alat yang digunakan CP-16 dan RB-15 dengan nozzel lumark ( polijet hijau ).

Gambar A semprot pasar pikul Gambar B semprot piringan
Gambar 2.3.2 Semprot Piringan dan Pasar Pikul
Bahan yang digunakan dalam penyemprotan :

Tabel 2.3.1 Bahan Semprot
No
Merek Dagang
Bahan Aktif
Sifat
Gulma Sasaran
1
Ally 20 WDG
Metil metsulfuron
Sistemik
Daun lebar
2
Gramoxone 276 SL
Paraquat diklorida
Kontak
Semua gulma
3
Supretox
Paraquat diklorida
Kontak
Semua gulma
4
Roll up
Glifosat
Sistemik
Daun sempit
5
Round up
Glifosat
Sistemik
Daun sempit
6
Prime up
Glifosat
Sistemik
Daun sempit
7
Starane
Flurok
Sistemik
Daun sempit


Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pekerjaan semprot antara lain:
1.Menyiapkan alat sesuai dengan jumlah tenaga semprot.
2.Menyiapkan bahan yang akan digunakan sesuai dengan prestasi kerja yang direncanakan ( dilengkapi dengan bon pengeluaran barang ).
3.Menyiapkan perlengkapan APD ( Alat Pengaman Diri ), yang terdiri dari pakean semprot, sarung tangan, masker dan helm.
4.Menyiapkan fooding susu untuk diminum sebelum bekerja.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat melakukan pekerjaan semprot antara lain :
1.Memastikan campuran bahan terlarut dengan merata sesuai dengan dosis dan konsentrasi yang telah ditetapkan.
2.Memastikan air yang digunakan benar-benar bersih.
3.Memastikan pekerja melakukan semprot sesuai dengan prosedur kerja.
4.Mamastikan losses bahan seminimal mungkin.
Hal-hal yang perlu diperhatikan setelah melakukan pekerjaan semprot antara lain :
1.Memastikan prestasi kerja tercapai.
2.Memastikan kualitas kerja tercapai.
3.Memastikan alat dan sisa bahan kembali ke gudang divisi dan mencuci alat ditempat yang telah disediakan di kantor divisi.
4.Membuat laporan hasil kerja dalam BKM ( Buku Kegiatan Mandor ).

Perhitungan larutan
Perhitungan kebutuhan larutan untuk tiap ha :
F x 10.000 m2
V x A
Keterangan; F : Floret (1,6 l/mnt)
V : Kecepatan jalan (36 m/mnt)
A : Lebar semprot (1,2 m)
Bila dari hasil kalibrasi telah didapatkan:
Floret : 1,6 l/mnt
Kecepatan jalan : 36 m/mnt
Lebar semprot : 1,2 m
Maka, 1,6 l/mnt x 10.000 ha = 16.000 = 370,37 l/ha
36 m/mnt x 1,2 m 43,2

Macam-macam nozel berdasar volume semprot :
1.Merah
Flowret : 2,4 l/mnt
Sebaiknya diaplikasikan untuk menyemprot semak karena volumenya yang besar sesuai dengan kebutuhan semprot semak yang harus basah sehingga efisiensi waktu dan tenaga.
2.Biru
Flowret : 2,4 l/mnt
3.Hijau
Flowret : 1,2 l/mnt
Cocok diaplikasikan untuk penyemprotan pada rerumputan karena hanya membutuhkan volume semprotan yang sedikit.
4.Kuning
Flowret : 0,6 l/mnt

Keterangan :
Floret adalah jumlah air yang keluar dari nozel setiap menit dalam satuan ml (mili liter). Apabila kelebihan air dari nozel sampai atau lebih dari 10% maka nozel harus diganti karena tidak sesuai lagi dengan standar.

Yang perlu diperhatikan dalam penyemprotan adalah:
1.Tepat bahan yang digunakan
2.Tepat sasaran aplikasi
3.Tepat dosis aplikasi
4.Tepat waktu aplikasi
5.Tepat alat aplikasi


2.Wiping.
Wiping adalah kegiatan mengendalikan lalang ( Imperata Cylindrica ) yang tumbuh spot, pelaksanaan wiping dilakukan 3 rotasi setahun dengan volume kerja 1 ( 100 % ) , norma HK 0,1 HK/Ha. Bahan yang digunakan glifosat ( Roll Up ) dengan dosis 0,03 L/Ha. Alat yang digunakan adalah alat wiping gendong yang terbuat dari jerigen 5 L dilengkapi dengan selang infus. Cara kerja tanaman diolesi bahan yang mengalir dari selang infus dengan jari telunjuk dan jari tengah yang telah dilapisi kain, kemudian dieratkan dengan jempol dari pangkal lalang hinggai ujung daun sampai basah. Lalang yang telah diwiping diberi tanda dengan memotong ujung daun, tujuanya adalah areal tersebut telah dilaksankan wiping.

Gambar. A. wiping lalang gambar B. jerigen infus
Gambar.2.3.3. Proses Wiping Lalang

3.Dongkel Anak Kayu. ( DAK )
Dongkel anak kayu adalah kegiatan mencabut atau membersihkan gulma berkayu dan anak sawit dari areal perkebunan kelapa sawit. Dogkel anak kayu dilakukan 2 rotasi setahun dengan volme kerja 0,98 ( 98 % ). Norma HK 1,1 HK/Ha. Alat yang diguankan cados ( cangkul dodos ), karung goni. Cara kerja Anak kayu dan anak sawit didongkel menggunakan cados hingga terangkat sampai ke akar-akarnya, anak kayu yang didongkel dibuang diatas rumpukan pelepah sedangkan anak sawit dimasukan goni dan dibuang di CR ( colection road ). Adapun jenis gulma yang didongkel antara lain Chromolaena odorata ( putihan ), Malastoma malabathricum ( senduduk ), anak sawit dan anak kayu lainya.




Keterangan :
Norma kerja : 1,1 HK/ha
Luas Divisi : 591,53 ha
Rotasi : 2x/thn
Jumlah hari/thn : 365 hari
Hari libur : 77 hari
Maka perhitungannya : 1,1 x 591,53 x 2 = 2.301,366 = 4,51 HK.
365 – 77 288
Maka dibutuhkan 5 HK/hari.


gambar.A Kegiatan dongkel anak kayu



Gambar.B Alat yang digunakan


Gambar. C Anakan kayu yang telah didongkel
Gambar. 2.3.4. Kegiatan Dongkel Anak Kayu


4.Semprot Semak.
Semprot semak dilakukan 2 rotasi setahun volume kerja 0,02 ( 2% ). Norma HK 4,5 HK/Ha. Bahan yang digunakan Paraquat diklorida diklorida ( Supretox ) dengan dosis 1,5 L/Ha dan Metil Metsulfuron ( Ally ) 0,075 Kg/Ha. Alat yang digunakan CP-16 dan RB-15. Adapun semak yang di semprot antara lain : Scleria sumatrensis ( Krisan ), Stenoclaena palustris ( pakis kresek ), Dicranopteris linearis ( pakis kawat ) dan jenis gulma semak lainya. Untuk semprot semak dalam 1 cap kapasitas 15 liter terdapat 50 ml supretok. Setiap heaktar membutuhkan 1,5 liter supretok dan 0,075 ally.
Perbandingan antara ally dan supretok adalah 1 : 20.
Untuk membuat campuran induk dapat menggunakan perbandingan bahan sebagai berikut: Supretok dan air ; 1 : 1
Ally dan air ; 1 : 20
Untuk penakaran aplikasi untuk 15 liter ada 50 ml supretok murni; dan untuk kapasitas air yang sama dibutuhkan 2,5 g atau 25 ml ally murni.


5.Semprot Jalan.
Semprot jalan dilakukan 4 rotasi setahun dengan volume kerja 1 ( 100 % ) blangket jalan. Norma HK 0,3 HK/Ha. Bahan yang digunakan Glifosat ( Roll Up ) dengan dosis 0,015 L/Ha dan Floroksipir ( Starane ) dengan dosis 0,005 L/Ha. Alat yang digunakan CP-16, RB-15 dan MHS. Gulma yang disemprot adalah gulma yang berada di badan jalan.


6.Tunas Pingir Jalan.
Tunas pinggir jalan dilakukan 4 rotasi setahun dengan volme kerja 1 ( 100 % ). Norma HK 0,2 HK/Ha. Tunas pinggir jalan merupakan kegiatan memangkas pelepah pohon yang berada di pinggir jalan dimana pelepah itu menutupi badan jalan. Adapun tujuanya agar cahaya bisa masuk mengeringkan badan jalan sehinga jalan tidak lembab. Panjang pangkasan 1/3 dari panjang pelepah.


7.Rawat Jalan.
Rawat jalan dilakukan 4 rotasi setahun dengan volume kerja 1 ( 100% ). Norma HK 0,3 HK/Ha. Alat yang digunakan cangkul. Rawat jalan merupakan kegiatan yang meliputi megalirkan genangan yang terdapat di badan jalan, menutup jalan berlobang dengan batu, membuka saluran drainase jalan yang tersumbat


Gambar A. perawatan jalan Gambar B. perataan jalan
Gambar C.Pembuatan tali air

Gambar.2.3.5. Perawatan Jalan

8. Rawat Tanaman Inang ( APH ).
Merupakan tumbuhan liar yang bermanfaat sebagai inang bagi imago parasitoid dan predator UPDKS ( Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit ). Tanaman diupayakan keberadaanya di areal pertanaman karena peranannya dalam mendukung perkembangan agensi pengendali hayati UPDKS. Contoh dari beberapa tumbuhan berguna : Turnera subulata, Erechtites sp, Urena lobata, Casiatora, Euphorbia spp, Antigonon leptosis.
Pedoman pengembangan tanaman berguna :
1.Penanaman Turnera subulata dan Casio tora di pinggir blok sepanjang jalan kebun dan daerah yang kosong dalam blok.
2.Perbanyakan Turnera subulata dengan cara stek.
3.Apabila Turnera subulata telah tinggi 75 cm dilakukan pemangkasan sampai 50 cm dari permukaan tanah.
Gambar A. Anjangan Gambar B.antigonon leptous
Gambar C Turnera Subulata

Gambar.2.3.6. Rawat Tanaman Inang

9.Pengendalian Penyakit
Penyakit merupakan faktor pengganggu tanaman kelapa sawit yang disebabkan oleh jamur atau virus yang menyebabkan penurunan produksi kelapa sawit. Penyakit harus diberantas atau dikendalikan dengan cara pemberantasan / eradication yaitu dengan pemusnahan semua penyakit, mengontrol dengan cara menekan penyakit sampai batas ekonomi yang tidak merugikan.
Adapun jenis – jenis penyakit pada tanaman kelapa sawit antara lain :
a.Penyakit busuk pangkal batang ( Ganoderma Boninense ).
Penyakit busuk pangkal batang adalah salah satu penyakit yang sangat berbahaya bagi tanaman kelapa sawit. Pengendalain busuk pangkal batang terbagi atas 2 golongan yaitu :
1.Areal Non endemik.
Areal non endemik Ganoderma Boninense adalah areal kelapa sawit baru ( generasi pertama ) bekas hutan atau bekas tanaman non palm. Tindakan pengendalain yang dilakukan :
a.Sensus
1.Sensus terhadap tanaman yang terserang Ganoderma Boninense dimulai pada saat tanaman berumur 3 tahun dengan cara sensus terhadap keseluruhan pohon dan menggunakan peta sensus tanaman.
2.Penentuan tingkat serangan penyakit Ganoderma Boninensedilakukn dengan keritria tertentu.
3.Jika tidak ditemukan yang bergejala sakit, maka interval sensus tetap 3 tahun sekali.
4.Jika ditemukan tanaman dengan gejala sakit, maka sensus berikutnya dilakukan dengan inteval 1 tahun sekali.
2.Areal endemik Ganoderma Boninense.
Areal endemik Ganoderma Boninense adalah areal kelapa sawit generasi pertama bekas tanaman palm atau areal kelapa sawit. Tindakan pengendalin dilakukan replanting dan penanaman.
b.Penyakit busuk arang ( Charcoal Base Rot – Ustilin deuste ).
Merupakan penyakit yang menyerang pada fase muda yaitu peralihan dari TBM ke TM. Gejala serangan berupa busuk arang di pangkal batang, pangkal batang mengeras berwarna hitam, akar menjadi rapuh dan tanaman tumbang.


c.Spear Rot
Merupakan gejala busuk pada tanaman kelapa sawit TBM dan TM yang dimulai dari pucuk, jika tidak dikendalikan dapat meluas ke pelepah lain di sekitarnya bahkan dapat menyebabkan kematian. Biasanya terjadi pada areal yang mempunyaai kelembaban tinggi atau sering tergenang air dan penyebaran serangan bersifat sporadis.
Pedoman pengendalian Spear Rot :
1.Tidak perlu sensus rutin, pengamatan dini dapat dilakukan kegiatan lain, misalnya dengan memberdayakan mandor perawatan. Jika terjadi serangan masih bisa dijangkau harus dilakukan pengendalian, sedangkan jika pohonnya tidak bisa di jangkau harus dibongkar.
2.Cara pengendalian penyakit ini :
a.Sanitasi jaringan sakit : pucuk ( daun tombak ), pelepah yang mengelilingi pucuk dan jaringan di pangkal busuk di buang dan dimusnahkan.
b.Selanjutnya pada jaringan sakit dilakukan aplikasi campuran bakterisida Streptomisin sebanyak 1 g produk dan fungisida Benomyl atau menkozeb atau Klorotalanil. Cara aplikasi larutan tersebut dapat disemprot dengan sprayer atau disiramkan dengan ember kebagian pucuk tanaman.
d.Busuk tandan ( Marasmius palmivoris ).
Marasmius palmivoris merupakan penyebab busuk tandan sehingga tandan tidak berkembang dengan baik. Penyakit ini timbul jika sanitasi di sekitar lingkungan tandan jelek. Umumnya ditemukan pada fase TM muda.
Pedoman pengendalian Marasmius palmivoris :
1.Tidak perlu disensus secara khusus. Informasi serangan dapat diperoleh dari mandor yang bertugas di areal tersebut.
2.Dilakukan perawatan tanaman sesuai standar budidaya yang ada. Buah yang busuk harus dibuang di gawangan mati dan dibakar atau disemprot dengan fungisida Benomyl atau menkozeb atau Klorotalanil konsentrasi 0,3 %.

10.Pengendalian Hama Binatang
Hama merupakan hewan pengganggu tanaman kelapa sawit yang dapat menurunkan produksi dan sangat merugikan. Adapun jenis - jenis hama pada tanaman kelapa sawit antara lain:
a.Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit (UPDKS).
Merupakan serangga hama ordo Lepidoptera pemakan daun, terdiri atas ulat api ( Limacodidae ) dan ulat kantong ( Psychidae ). Berikut jenis – jenis UPDKS yang menyerang tanaman kelapa sawit terdapat dalam tabel 2.3.2 berikut ini :
Tabel 2.3.2 Jenis-Jenis UPDKS.
No
Ulat
Ulat Api
Ulat Kantong
1
Sethothosa asigna
Mahesana corbekti
2
Setora niten
Metisa plana
3
Thosea bisura
Cremastopsyche
4
Thosea vetusta
Pendula
5
Ploneta diducta
 
6
Darma trima
 
7
Susica pallida
 
Hama UPDKS menyerang tanaman yang belum menghasilkan dan tanaman menghasilkan. Hama UPDKS merupakan hama yang bersifat permanen sehingga setiap saat populasinya dapat meledak, akibatnya daun kelapa sawit menjadi berlubang, dan apabila terjadi serangan berat, maka akan tinggal lidinya saja, sehingga dapat menyebabkan asimilasi terganggu dan produksi akan menurun. Serangan Hama UPDKS dimulai dari adanya sumber infestasi dari ulat tersebut, oleh karena itu perkembangan populasinya harus diketahui sedini mungkin dengan melalui deteksi UPDKS. Apabila tingkat serangan sudah berat maka harus dilakukan tindakan pengendalian.
1)Jenis UPDKS dan pola serangannya
Pengetahuan terhadap kehidupan ulat dan pola serangannya sangat membantu upaya pengendalian secara benar.
Gambar 2.3.7. Jenis UPDKS



Those asigna Thosea bisura Thosea vetusta



Setora nitens Ploneta diducta Darna trima
Mahasena corbetti Metisa plana

2)Deteksi UPDKS
Pada areal non endemik, dilakukan deteksi sebagai berikut :
a.Pengamatan awal untuk memantau UPDKS sejak dini.
b.Setiap divisi harus mempunyai petugas monitoring dan pengendali hama secara tetap sebanyak 2 orang yang juga dapat mengambil contoh daun.
c.Pengamatan dimulai pada baris 3 atau 10, digilir setiap periode pengamatan dan setiap 13 baris berikutnya.
Umur tanaman <> 5%, segera dilakukan baiting pada blok tersebut dengan cara sistem campaign. lokasi penempatan umpan di pinggir piringan arah rumpukan pelepah dan diberi tanda potongan helai daun lidinya.
c.Apabila ada indikasi serangan tikus yang cukup berat sebelum sensus periode berikutnya tiba, maka kebun dapat segera melakukan sensus dan jika hasilnya >5% segera dilakukan baiting dengan sistem campaign.
d.Khusus untuk kebun histories serangan tikus yang selalu tinggi, dapat dilakukan sensus setiap bulan, dan dilakukan baiting jika serangan >5%
4.Interval pengulangan ganti umpan harus dlakukan setiap 3 hari sampai tingkat umpan yang dimakan <20%. hpo4=" ;" ha =" 454,54" ha =" 303,03" kg =" 294" kg =" 102kg/angkong" pokok =" 2,88" akp =" Jumlah" akp =" 240" janjang =" 0,336" produksi =" 120" janjang =" 95." mandor =" Jumlah" pikul =" 63" mandor =" Jumlah" divisi =" 27"> 9 tahun ( tinggi pokok 3 meter )
Panjang pangkal 20 cm; panjang pisau 45 cm; sudut lengkung dihitung pada sumbu 135 dan berat 0,5 kg
4
Angkong
Pengangkutan TBS ke TPH
Sesuai spesipikasi yang ada
5
Kapak Gancu V-cut
Memotong bongkol kelapa sawit
 
6
Tali nilon
Pengikat pisau egrek.
 
7
Batu asah
Pengasah dodos dan pisau egrek.
 
8
Aluminium gold pole
Gagang egrek
 
9
Gancu
Mengangkat TBS
 

Alat-alat kutip brondolan yang biasa digunakan terdapat dalam tabel 2.4.3 berikut ini :
Tabel 2.4.3. Alat-Alat Kutip Brondol.
No
Nama alat
Penggunaan
1
Ember takaran
Menakar jumlah brondolan yang didapat
2
Karung goni belah
Tempat brondolan.
3
Cokeran / gancu brondol
Mengambil brondolan di ketiak pohon.
4
Kartu brondolan
Identitas pembrondol
5
Angkong
Mengangkut brondolan

5.Cara Panen
TBS yang dipanen adalah yang telah memenuhi persyaratan kriteria matang panen yaitu 2 butir brondolan lepas per kg TBS. Dalam suatu keadaan tertentu apabila tampak bahwa sudah membrondol tetapi di piringan tidak dijumpai brondolan, tandan tersebut dijolok dengan punggung egrek, dan apabila brondolan mudah jatuh, maka tandan tersebut harus dipotong.
Buah yang telah selesai dipotong diletakkan di piringan mengarah ke pasar pikul. Sebelum diangkat, gagang panjang harus dipotong dengan kapak V-cut semepet mungkin ke pangkal TBS. Buah disusun rapi di TPH secara berbanjar 5 janjang dengan gagang ke atas dan brondolan tertumpuk sesuai takaran beralaskan goni bekas pupuk terpisah dengan janjang.

6.Rotasi panen
Areal panen setiap divisi harus dibagi menjadi 6 kovelt panen yang disesuaikan dengan konsep rotasi 6 hari dalam satu minggu ( 7 hari ). Areal TM harus terpanen secara keseluruhan dari senin sampai sabtu dengan rotasi minimal 4 kali sebulan termasuk pada periode panen puncak. Apabila rotasi panen tidak dapat tercapai sesuai dengan standar, maka harus diambil kebijakan untuk menambah tenaga panen dan pembrondol.

7.Kriteria Panen.
Kriteria panen yang dilakukan di Perkebunan Sungai Seruyan adalah setiap satu janjang terdapat brondolan 5 butir, baik barondolan ada di ketiak pohon ataupun di piringan pohon. Secara umum kriteria panen dapat dilihat pada tabel 2.4.4 sebagai berikut :







Tabel 2.4.4 Kritria Panen.



8.Mutu Panen
Mutu panen yang baik dapat diperoleh dengan memperhatian hal-hal sebagai berikut:
a.Berat TBS yang dipanen minimal 3 kg per tandan
b.Pemotongan buah dapat dilakukan bila di piringan telah dijumpai 2 butir brondolan untuk setiap kg TBS yang lepas secara alami
c.Brondolan yang terdapat di piringan dan ketiak daun pelepah harus dikutip dan diangkut ke TPH.
d.Gagang / tangkai buah yang tertinggal di tandan, dipotong sependek mungkin dengan menggunakan kapak V-cut.
e.Tandan Buah Segar (TBS ) yang terdapat di Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) harus matang panen dan buah mentah tidak boleh ada.
f.Di Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) tidak diperkenankan adanya janjang kosong.
g.Tandan Buah Segar (TBS) yang dipanen hari itu juga harus diangkut ke PKS dan tidak diperkenankan bermalam di TPH (Restan).
h.Buah dan brondolan yang dikirim ke PKS harus bersih, dan tidak bercampur dengan brondolan busuk, pasir serta sampah lainnya.
i.Untuk brondol lepas disusun di samping TBS yang harus dialasi dengan karung goni bekas pupuk yang telah dibelah.
9.Penyusunan Pelepah Dengan Cara L sip
Di PT Sinar Mas telah ada kebijakan pembuatan L sip.
L sip adalah peletakan pelepah sawit yang telah lepas dari pokok untuk diletakkan disekitar piringan dengan pola peletakan menyerupai huruf L (untuk L sip).
Keuntungan penggunaan L sip adalah:
1.Mencegah pertumbuhan gulma.
Karena permukaan tanah ditutup, maka bibit-bibit gulma yang tersebar melalui angin dan lainnya yang menempel pada permukaan pelepah tidak akan tumbuh.
2.Mencegah erosi permukaan tanah dalam keadaan ringan.
Aliran air permukaan dalam kondisi ringan tidak akan berpengaruh pada areal yang telah ditutup dengan pelepah.
3.Menjaga kelembapan tanah.
Dengan tertutupnya permukaan tanah maka penguapan ditanah akan menurun sehingga kelembapan tanah tetap terjaga dari kekeringan.
4.Mempercepat tumbuhnya bulu-bulu akar.
Karena kelembapan juga maka pertumbuhan bulu-bulu akar tanaman kelapa sawit menjadi optimal.
Bulu-bulu akar atau akar tersier merupakan akar yang paling banyak menyerap hara dan air dari dalam tanah dibandingkan dengan akar-akar lainnya dalam satu pokok.
Tata cara peletakan pelepah untuk pembuatan L sip:
Bongkol pelepah menghadap kepasar mati,
Tujuan : agar tidak membahayakan pekerja dan alat karena pada bongkol terdapat duri-duri. Alat seperti angkong yang memiliki ban dapat bocor bila terkena duri.
Ujung pelepah menghadap ke arah pasar pikul,
Ujung pelepah tidak memiliki duri sehingga tidak akan membahayakan pekerja dan alat.




10.Tempat Pengumpulan Hasil ( TPH ).
Hasil panen ditempatkan pada TPH yang telah ditentukan dalam setiap blok. Hasil dari setiap pemanen harus mencantumkan kode pemanen dan jumlah janjang pada tangkai janjang.
Brondolan harus dialasi karung bekas pupuk yang telah dibelah dengan jumlah tumpukan maksimal 3 tumpuk per alas, setiap tumpukan brondolan harus diberi kartu brondol yang menunjukan identitas pembrondol dan jumlah tumpukan brondolan.

11.Speksi Panen Detail
Kegiatan speksi panen detail dilaksankasan setelah kegiatan panen berakhir bersama - sama oleh Mandor Panen, Mandor I dan Asisten .
1.Setiap hari dengan cara bergantian setiap mandoran sesuai rencana yang telah dibuat sehingga merata untuk semua mandoran panen .
2.Dilakukan minimal 7 – 10 % dari luasan panen hari itu.
3.Hasil speksi panen detail dicatat dalam form speksi panen dan diparaf oleh Mandor Panen, Mandor I dan Asisten yang selanjutnya dapat dijadikan dasar pemberian sanksi kepada pemanen / pembrondol, Mandor Panen dan Mandor I.
4.Askep dan pimpinan kebun ikut melaksanakan speksi panen.

12.Nilai Kesalahan / Saksi untuk Mandor Panen dan Mandor I

Apabila supervise tidak melakukan tindakan atas kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam setiap pekerjaan panen, kutip brondol dan transport TBS, maka kepada supervisi yang bersangkutan dikenakan denda sebesar 4% setiap hari dari jumlah premi sebulan. Adapun jenis kesalahan yang dapat didendakan adalah sebagai berikut :
Mandor:
1.Membiarkan buah masak tidak dipanen tanpa ditindak
2.Membiarkan pemanen memotong buah mentah tanpa ditindak
3.Membiarkan pelepah tidak disusun dengan baik dan pelepah gantung/sengkleh.
4.Membiarkan brondolan tidak dikutip dengan bersih di piringan dan pasar pikul
Krani Panen / Transport.
1.Menerima buah mentah tanpa ditindak.
2.Tidak menindak pemanen yang meletakkan buah di luar TPH atau brondolan tanpa dialasi goni di TPH
3.Tidak menindak pemanen yang memotong buah dengan gagang terlalu panjang
4.Manipulasi data penerimaan buah/brondolan oleh krani dapat diberikan sanksi PHK
5.Khusus krani transport tidak menindak atau melaporkan kesalahan atau ketidakakuratan jumlah TBS/brondolan di TPH

Mandor I : Tidak menindak dan memonitor kesalahan yang dilakukan pemanen/ pembrondol maupun Pengawas (Mandor panen/ Krani panen/Krani transport) .

13. PEMUATAN DAN PENGANGKUTAN TBS
Pengangkutan TBS ke PKS merupakan sistem kerja berantai mulai penentuan taksasi, panen dan pengangkutannya.
TBS yang sudah dipanen harus diusahakan diangkut ke PKS pada hari yang sama, guna mendapatkan mutu minyak yang baik.
Pelaksana Pengangkutan
Pengangkutan TBS dari lapangan ke PKS dengan dua sistem :
a.pengangkutan dengan kendaraan kebun yaitu pengangkutan TBS dilaksanakan dan diawasi oleh kebun.
b.Pengangkutan oleh pemborong yaitu pengangkutan TBS dilakukan oleh kontraktor. Biaya angkut dihitung berdasarkan harga per kilogram TBS yang jumlahnya sesuai dengan hasil penimbangan di PKS.
Khusus pengiriman TBS jarak jauh yang melewati jalan raya, harus ditimbang sebelum dikirim dan dilengkapi jaring dengan rantai keliling yang pada simpulnya diberi segel yang hanya dapat dibuka oleh petugas di pabrik untuk mencegah adanya pencurian TBS di jalan.

BAB III
KESIMPULAN

1.Kesimpulan.
1.Kegiatan yang dilakukan mulai dari perencanaan tata letak lahan sampai dengan pembukaan lahan secara fisik. Menyiapkan areal siap tanam untuk menunjang pertumbuhaan tanaman dan memudahkan dalam pengelolaan kebun agar bibit yang akan ditanam mendapat ruang dan tempat tumbuh yang baik bagi tanaman kelapa sawit sehingga tanaman dapat tumbh normal dan terhindar dari pesaingan antara tanaman dengan gulma serta gangguan yang lannya.
Tahapan – tahapan Pekerjaan yang harus dilakukan kegiatan Land Clearing ( LC ) antara lain sebagai berikut : Block Design, Imas dan Tumbang, Pancang Rumpuk, Perun, Pembatan Jaringan Jalan dan saluran air, Pancang tanam.
2. Pembibitan adalah tempat untuk menumbuhkan kecambah ( benih yang telah diberi perlakuan sehingga membentuk plumula (pucuk) dan radikula (akar) serta siap untuk ditanam dipembibitan )hingga menjadi bibit (bahan tanam yang sudah siap untuk ditanam dilapangan ) dan juga memeliharanya sampai bibit siap ditanam kelapangan/kebun. Dengan tujuan, melakukan seleksi, memelihar bibit secara intensif, mendapatkan jaminan hasil produksi yang tinggi di masa depan.
Tahapan – tahapan Pekerjaan yang harus dilakukan di Pembibitan : Dipembibitan ada 3 hal yang perlu diperhatiakan (Bersih, Seragam, Hijau), Penyiraman,Weeding/penyiangan ( pengendalian ), Konsolidasi bibit, Pemupukan , Pengendalian hama dan penyakit, Seleksi bibit.
3.Perawatan Tanaman Belum Menghasilkan meliputi : Rawat Jalan Tikus, Rawat Piringan, Pemberntasan Lalang, Rawat Gawangan (DAK), Sensus Pohon, Konsolidasi
4.Perawatan Tanaman Menghasilkan meliputi : Semprot Piringan dan Pasar pikul, Wiping, Dongkel Anak Kayu. ( DAK ), Semprot Semak, Semprot Jalan, Tunas Pingir Jalan, Rawat Jalan, Pengendalian Penyakit, Pengendalian Hama Binatang, Rawat Tanaman APH, Pemupukan, Apliksi Janjang Kosong ( JJK ).
5.Kegiatan Panen Meliputi : Organisasi Panen, Pedoman dan cara perhitungan tandan buah matang, Ancak Panen, Alat-Alat Panen, Cara Panen, Rotasi panen / frekuensi panen, Kriteria Panen, Mutu Panen, Tepat Pengumpulan Hasil ( TPH ), Speksi Panen, Nilai Kesalahan / Penalty untuk Mandor Panen dan Mandor.
6.Pelaksanaan perawatan tanaman menghasilkan dan panen yang baik akan mencapai produksi yang tinggi.

3 komentar:

bimo mengatakan...

keren abang bantu kami ya kak Co.Ass

bimo mengatakan...

keren abang bantu kami ya kak Co.Ass

sarung egrek sawit mengatakan...

Dalam rangka mendukung Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja, kami tawarkan produk yang kami hasilkan sebagai berikut :
Safety Cover for sickle & chisel (Sarung Egrek & Dodos)
Adalah pelindung (sarung) untuk alat panen kelapa sawit yaitu egrek dan dodos yang terbuat dari kulit sapi berkualitas, dengan kancing tembaga anti karat dan perekat yang bisa disetel sesuai ukuran tangkai egrek atau dodos, dengan keunggulan :
1. lebih awet, tahan lama, dan tahan terhadap cuaca (panas & hujan)
2. mudah pemakaian, perawatan dan mudah penyimpanan
3. lebih murah dan merupakan produk industri rumah tangga dalam negeri
Kami menawarkan dengan harga Rp. 36.000,- (tiga puluh enam ribu rupiah)
Hubungi : UD LINTANG
Jln Sitiprojo III / 52B Nanggulan RT 03 RW 14 Salatiga Jawa Tengah
HP 081378702623 atau HP 08156804263
Email : arimba@yahoo.com atau sarungegrek@gmail.com
Kunjungi http://sarungegreksawit.wordpress.com